Kisah pasangan lansia ini membuka wajah lain pembangunan: di saat pemerintah meluncurkan program triliunan rupiah, sebagian warga lanjut usia masih berjuang untuk mendapatkan makan dan tempat layak. "Kadang kami hanya makan sekali sehari. Kalau hujan, air masuk ke rumah. Kami takut jatuh karena penglihatan pakai kacamata saja sudah kabur," kata Nenek Ani dengan suara pelan.
Para tetangga mengenang bagaimana Ani dan Casman selalu ramah, namun belakangan keberadaan mereka lebih sering menimbulkan simpati daripada solusi. Pemerintah daerah memang memiliki sejumlah program sosial, namun akses dan keberlanjutan bantuan bagi lansia rentan masih sering terputus. Data institusi sosial setempat menunjukkan peningkatan jumlah lansia miskin yang hidup sendiri atau tanpa dukungan keluarga.
Beberapa aktivis dan tokoh agama setempat mengusulkan model pondok pesantren lansia: lembaga yang menggabungkan nilai keagamaan, perawatan sosial, layanan kesehatan dasar, serta dukungan ekonomi mikro. Model ini dinilai cocok untuk konteks Indonesia karena dapat memadukan kewajiban negara, peran masyarakat, dan jaringan pesantren yang kuat.
"Pondok pesantren lansia bisa memberi tempat tinggal, pengasuhan spiritual, serta program kesehatan dan keterampilan. Ini solusi yang manusiawi dan berkelanjutan," ujar Koordinator LSM sosial setempat.
Pemerintah daerah diminta memetakan lansia rentan, memperkuat koordinasi antar dinas kesehatan, sosial, dan keagamaan, serta menyiapkan anggaran khusus untuk pilot project. Tanpa intervensi terstruktur, kisah Ani dan Casman hanya menjadi satu dari banyak potret yang menguji prioritas kebijakan publik. (*)
Reporter : Hery CS







