• RUANG IKLAN

    Ruang ini disewakan untuk pemasangan iklan banner.

Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2026

Haedar Nashir dan Martabat Pers Indonesia

Oleh: AYS Prayogie 

Ada momentum yang terasa melampaui seremoni. Penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Prof. Dr. KH Haedar Nashir di Auditorium Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cirendeu, Tangerang Selatan, pada 13 Agustus 2026, bagi saya merupakan salah satu momen yang menyisakan kesan mendalam.

Bukan semata karena sebuah kartu diserahkan kepada seorang tokoh. Lebih dari itu, momentum tersebut dapat dibaca sebagai simbol penghormatan terhadap integritas, keteladanan, sekaligus refleksi tentang masa depan pers Indonesia.

Acara itu semakin istimewa karena dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang. Tampak Menteri Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, serta Direktur Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) UMJ Dr. Tria Patrianti, S.Sos., M.I.Kom.

Hadir pula sejumlah tokoh pers nasional, antara lain Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Dr. Aat Surya Safaat, Sekretaris Jenderal SMSI Muhammad Nassir, Ketua Umum JMSI Dr. Teguh Sentosa, serta Wakil Ketua LUKW Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Dr. Retno Intani ZA.

Bagi saya, kehadiran para tokoh tersebut menghadirkan pesan yang lebih besar. Pers bukan sekadar industri informasi. Pers merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga akal sehat publik.

Ketika Kartu Menjadi Simbol Tanggung Jawab

Kartu Wartawan Utama Khusus yang diberikan kepada Haedar Nashir seharusnya tidak berhenti pada makna identitas ataupun penghormatan personal.

Di tengah perubahan ekosistem media yang berlangsung sangat cepat, kartu tersebut justru mengingatkan kembali tentang satu hal yang fundamental: semakin tinggi pengakuan terhadap profesi kewartawanan, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Hari ini, informasi bergerak dalam hitungan detik.

Media sosial, platform digital, kecerdasan buatan, dan berbagai kanal informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh berita. Persoalannya, perubahan tersebut juga membuat batas antara fakta, opini, propaganda, misinformasi, disinformasi, dan hoaks semakin tipis.

Masyarakat tidak selalu memiliki kemampuan untuk membedakan mana informasi yang lahir melalui proses jurnalistik dan mana konten yang sekadar dibuat untuk mengejar perhatian, popularitas, keuntungan ekonomi, atau kepentingan tertentu.

Di sinilah profesi wartawan memperoleh relevansinya.

Wartawan tidak boleh kehilangan pijakan hanya karena mengejar kecepatan. Akurasi tidak boleh dikorbankan demi klik. Verifikasi tidak boleh dikalahkan oleh tuntutan viral. Dan media tidak semestinya menjadikan sensasi sebagai ukuran utama keberhasilan.


Kecepatan memang penting, tetapi kebenaran dan akurasi jauh lebih penting.


Karena itu, Kartu Wartawan Utama semestinya dipahami sebagai pengingat akan kewajiban menjaga integritas, independensi, profesionalitas dan etika pers.

Masih sebuah orasi kebangsaan untuk momentum tersebut. Namun, karena orasi itu khusus hanya disampaikan oleh Prof Dr KH Haedar Nashir 8 


Meski demikian, gagasan yang telah disiapkan tetap relevan untuk direnungkan.


Indonesia sedang berada dalam fase transformasi besar. Media konvensional terus beradaptasi dengan digitalisasi. Pada saat yang sama, masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat memproduksi dan menyebarluaskannya.


Perubahan ini tentu membuka ruang demokrasi yang jauh lebih luas.


Namun, di balik peluang tersebut terdapat tantangan yang tidak sederhana. Hoaks, judul menyesatkan, konten manipulatif, informasi tanpa verifikasi, hingga penggunaan kecerdasan buatan menghadirkan persoalan baru bagi dunia jurnalistik.


Dalam situasi seperti itu, wartawan justru dituntut semakin kuat memegang prinsip-prinsip jurnalistik.


Wartawan harus menjadi penjernih informasi, bukan bagian dari kegaduhan informasi.


Media harus mampu menghadirkan konteks, melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, serta memberikan ruang yang cukup kepada publik untuk memahami persoalan secara utuh.


Sebab, ketika pers kehilangan integritas, yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas seorang wartawan atau nama sebuah media.


Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik dan kualitas demokrasi.


Kebebasan Harus Berjalan Bersama Tanggung Jawab


Saya melihat penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir dari perspektif yang lebih luas.


Penghormatan terhadap seorang tokoh tidak seharusnya berhenti pada seremoni. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai keteladanan dan gagasan yang melekat pada sosok tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.


Di tengah masyarakat Indonesia yang memiliki beragam pandangan, pilihan, kepentingan dan latar belakang, pers memiliki posisi strategis sebagai ruang bertemunya gagasan.


Karena itu, wartawan harus mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.


Kebebasan pers bukan kebebasan tanpa batas.


Kebebasan pers harus berjalan bersama tanggung jawab profesional, kepatuhan terhadap etika jurnalistik, serta kesadaran bahwa setiap informasi yang dipublikasikan memiliki konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat.


Di sinilah saya melihat makna penting Kartu Wartawan Utama.


Kartu itu semestinya bukan hanya menjadi tanda kompetensi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa profesi kewartawanan adalah amanah.


Semakin tinggi kompetensi seorang wartawan, seharusnya semakin kuat pula komitmennya terhadap kebenaran.


Sebuah Momentum yang Sulit Dilupakan


Secara pribadi, saya tidak melihat acara di Gedung Cendekia UMJ itu hanya sebagai agenda organisasi atau seremoni penyerahan kartu.


Ada pesan kebangsaan yang terasa kuat: pers harus tetap menjadi kekuatan moral di tengah perubahan zaman.


Kehadiran tokoh pers, akademisi, pemerintahan dan organisasi kewartawanan dalam satu ruang juga menunjukkan bahwa masa depan pers Indonesia tidak mungkin dibangun oleh satu kelompok saja.


Diperlukan kolaborasi antara insan pers, lembaga pendidikan, organisasi profesi, pemerintah, Dewan Pers, masyarakat sipil dan seluruh elemen bangsa.


Karena itu, saya memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Prof. Dr. KH Haedar Nashir.


Semoga penghormatan tersebut tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar yang lebih besar untuk memperkuat kualitas pers Indonesia.


Pada akhirnya, wartawan bukan sekadar orang yang menulis dan menyampaikan berita.


Wartawan memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, berimbang, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Dunia boleh berubah.


Teknologi akan terus berkembang. Platform akan berganti. Pola konsumsi informasi akan terus bergerak.


Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah: integritas.


Sebab, martabat profesi wartawan pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa cepat sebuah berita menjadi viral, melainkan oleh seberapa kuat wartawan mempertahankan kebenaran, etika, independensi dan tanggung jawabnya kepada publik.


Teknologi boleh berubah. Media boleh bertransformasi. Tetapi kehormatan pers harus tetap berdiri di atas kebenaran.


Cirendeu, 13 Agustus 2026


AYS Prayogie

Ketua Umum Perkumpulan Media Independen Online Indonesia (MIO Indonesia) | Pemimpin Redaksi HITVberita.com | Dewan Penasehat Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) | Dewan Penasehat Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB)

Share:

06 Desember 2025

Kejujuran, Fondasi Utama Membangun Integritas dan Kebersamaan

Oleh : Fajar Trihatya,SE

Kejujuran adalah pondasi terpenting dalam membangun hubungan yang kuat, sehat, serta dilandasi rasa saling percaya, terutama di lingkungan kerja maupun organisasi. Tanpa kejujuran, kerja sama akan runtuh, komunikasi menjadi rapuh, dan tujuan bersama kehilangan arah. Ketika seseorang memilih untuk tidak jujur terhadap rekan kerja atau sesama anggota organisasi, sesungguhnya ia tengah merusak nilai kebersamaan dan menunjukkan sikap mementingkan diri sendiri.

Seperti halnya Bung Mohammad Hatta yang mengatakan, praktik  kejujuran itu ekstrem, seperti mengembalikan uang sisa pengobatan ke negara, sebagai teladan integritas sebagai seorang pemimpin. "Kalau kamu tidak bisa jujur ketika berjalan dengan tim bekerjasama, Lebih baik kamu berjalan sendiri dari pada bersekongkol dalam kebohongan dan menyembunyikan kebenaran," jelasnya.

Kejujuran membawa kedamaian hati, menjaga kewibawaan diri, dan memperkuat integritas pribadi. Sebaliknya, kebohongan hanya menciptakan luka, kecurigaan, serta ketegangan yang menggerogoti rasa persaudaraan. Jika hasil diraih dengan cara yang tidak jujur, maka mungkin keuntungan datang, tetapi kepercayaan akan sirna.

Perlu diingat, bersikap jujur berarti menunjukkan rasa hormat—bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Kejujuran membuka jalan bagi penyelesaian masalah yang nyata, membangun komunikasi yang sehat, dan mendorong perbaikan bersama demi tujuan yang lebih besar.

Pada akhirnya, kejujuran bukan semata persoalan kata-kata, melainkan tindakan nyata yang mencerminkan niat baik dan komitmen terhadap nilai kebenaran. Ketika seseorang merasa sulit bersikap jujur, saat itulah introspeksi menjadi keharusan. Perbaiki cara berkomunikasi, luruskan niat, dan jadikan kejujuran sebagai kekuatan, bukan beban.

Tanpa kejujuran, kerja sama akan mustahil terbangun. Maka sebelum semuanya terlambat, bercerminlah pada diri sendiri: apakah kita sudah cukup jujur untuk berjalan bersama, atau justru masih sibuk melangkah untuk kepentingan diri sendiri.

Selain itu juga Kejujuran adalah nilai moral yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kejujuran berarti berkata dan bertindak sesuai dengan fakta, tanpa menutup-nutupi atau memanipulasi kebenaran. Kejujuran tidak hanya membangun kepercayaan antara individu, tetapi juga merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang kehidupan.Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai. 

Ketika seseorang jujur, orang lain akan merasa nyaman dan percaya untuk berinteraksi, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas. Sebaliknya, kebohongan dan ketidakjujuran dapat menimbulkan konflik dan kerugian jangka panjang.Kejujuran juga menjadi kunci keberhasilan dalam bisnis dan karier. 

Banyak tokoh sukses dunia, seperti Abu Bakar as-Siddiq, yang mengajarkan bahwa kejujuran dalam berbisnis adalah fondasi membangun reputasi dan kepercayaan pelanggan. Dengan kejujuran, seseorang tidak hanya meraih keberhasilan materi, tetapi juga kehormatan dan harga diri yang tinggi.

■Penulis adalah Ketua Lembaga Pemerhati Kinerja Pemerintah Sumatera Utara (LPKP SUMUT).

Share:

BERITA UTAMA

KELUARGA RIKI AGASI MINTA PERHATIAN KAPOLDA SUMUT IRJEN POL. SONNY IRAWAN DAN KETUA KOMPOLNAS JENDERAL DUDUNG ABDURACHMAN

SumutJaya.com, Medan. - Keluarga besar Riki Agasi, tukang servis AC warga Jl. Menteng Raya Gg. Bersama, Binjai, Kec. Medan Denai, Kota Medan...

Image

PASANG IKLAN DI SINI

Image

Arsip Blog

PASANG IKLAN DI SINI

Image
Image