Seorang warga Pematang Jaya yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan nasib infrastruktur desa perbatasan tersebut saat ditemui kru media ini, Rabu (29/4/2026). "Jalan kami sudah lama sekali tidak pernah diaspal. Kami menduga anggaran untuk pengaspalan ada, tapi mengapa sampai sekarang selalu rusak? Kecamatan ini seolah tak pernah diperhatikan Pemkab Langkat," katanya.
Keluhan warga semakin mendesak karena dampak ekonomi nyata. Uang gaji aparatur sipil negara (ASN) dan pendapatan warga Pematang Jaya cenderung mengalir ke Aceh Tamiang akibat infrastruktur jalan yang lebih baik di sana, meski jaraknya lebih jauh dibanding antar-desa di Langkat. Faktor pendukung lain meliputi:
Tidak adanya sarana perbankan di wilayah setempat.
Absennya SPBU khusus nelayan, padahal jalur angkutan minyak Pertamina dari EP Rantau melewati Pematang Jaya.
Belum adanya pasar tradisional tetap yang buka setiap hari.
Akibatnya, pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Pematang Jaya beberapa tahun terakhir gagal mencapai target.
Warga kini berharap Bupati Langkat segera merespons tuntutan pengaspalan, setidaknya untuk ruas jalan Damar Condong menuju Kecamatan Seraway, Aceh Tamiang. Hingga berita ini diturunkan, Pemkab Langkat belum memberikan tanggapan resmi. (Agus)







