Menurut Assoc.Prof.Dr Ali Yusran Gea, langkah mundur dari BOP menjadi krusial karena Amerika telah melanggar visi dan misi BOP dan norma hukum internasional. "Amerika dan Israel merupakan sumber utama kejahatan kemanusiaan serta pelanggaran hak asasi manusia di dunia," tegasnya, menyoroti perbedaan mendasar budaya politik. Ia menekankan bahwa politik luar negeri Indonesia berlandaskan Pancasila sebagai nilai kepribadian bangsa yang kolektif dan humanis, sementara Amerika-Israel cenderung individualistik dan bertentangan dengan identitas nasional kita.
Alasan mendesak lainnya mencakup kesenjangan kekuatan teknologi serta pertahanan militer Indonesia yang masih jauh tertinggal dibandingkan Iran, Amerika, maupun Israel. Selain itu, keterlibatan dalam mediasi berisiko mengganggu hubungan perdagangan dunia yang sudah rapuh. Di dalam negeri, stabilitas politik Indonesia belum kondusif akibat isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), skandal MBG, penegakan hukum yang lemah, serta konflik sosial yang kian memanas.
"Kami sangat berharap Presiden Prabowo tidak salah langkah dalam menjalankan politik luar negeri. Jangan sampai keputusan ini menjadi bencana bagi kehidupan bangsa," ujar Dr.Ali Yusran Gea. PURBAYA Indonesia menilai, prioritas utama saat ini adalah memperkuat fondasi domestik sebelum terjun ke arena konflik global yang kompleks.
Pernyataan ini menambah dinamika diskusi politik nasional pasca-pemilu, di mana kebijakan luar negeri Presiden Prabowo terus menjadi sorotan publik dan elite politik. (Red)







